Oleh: Dr. H. Kalayo Hasibuan, M.Ed.-TESOL
• Ketua Umum Parsadaan Hasibuan Riau (PARHARI)
• ?Dosen Home Base pada Prodi Magister TBI Pascasarjana UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Tanggal 27 September 2026 menjadi momentum yang sangat bermakna bagi keluarga besar Parsadaan Hasibuan Riau (PARHARI). Peringatan hari berdirinya organisasi ini dengan Panitia Pelaksana (Ketua: Darman Hasibuan, SE, Sekretaris: Dr. Ismail Mulia Hasibuan, M.Si, Bendahara: Hj. Sumarni, S.Sos) yang mana Peringatan berdirinya/Milad PARHARI
bukan sekadar mengenang sebuah tanggal dalam sejarah, melainkan menjadi ruang refleksi untuk melihat sejauh mana organisasi telah berkontribusi bagi anggotanya, masyarakat, serta pembangunan daerah. Momentum ini juga menjadi penanda bahwa PARHARI terus berupaya menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi kekerabatan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Dalam tradisi masyarakat Batak, parsadaan bukan hanya wadah berkumpul berdasarkan ikatan marga. Lebih dari itu, parsadaan merupakan institusi sosial yang berfungsi menjaga silaturahmi, memperkuat solidaritas, melestarikan budaya, dan membangun kepedulian sosial, yang dalam konsep adat dikenal dengan istilah Dalihan Natolu (hormat marmora, elek maranak boru, dan manat mardongan tubu/markahanggi).
Sejarah panjang berbagai organisasi Hasibuan di berbagai daerah menunjukkan bahwa semangat kebersamaan dan gotong royong selalu menjadi fondasi utama dalam memperkuat hubungan antaranggota keluarga besar Hasibuan.
Di Provinsi Riau, PARHARI hadir sebagai wadah yang menyatukan keluarga besar Hasibuan yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota. Keberadaan organisasi ini menjadi penting karena mobilitas masyarakat yang semakin tinggi sering kali menyebabkan renggangnya hubungan kekerabatan. Dalam konteks tersebut, PARHARI berperan sebagai rumah bersama yang menjaga nilai-nilai kekeluargaan tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Eksistensi sebuah organisasi tidak cukup hanya ditunjukkan melalui keberadaan struktur kepengurusan atau kegiatan seremonial semata. Eksistensi sejati tercermin dari manfaat yang dirasakan oleh anggota dan masyarakat. Oleh karena itu, selama 2 tahun berdirinya PARHARI, organisasi ini terus berupaya menghadirkan berbagai kegiatan yang memperkuat silaturahmi, meningkatkan kepedulian sosial, serta membangun semangat kolaborasi antargenerasi. Salah satu contohnya adalah kegiatan halal bihalal yang menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan sekaligus memperkuat komitmen kebersamaan di antara anggota.
Memperingati hari jadi ke 2 PARHARI pada 27 September 2026 juga menjadi kesempatan bagi PARHARI untuk memperluas orientasi gerakan organisasi. Di era digital dan globalisasi, organisasi kekerabatan perlu bertransformasi menjadi organisasi yang tidak hanya menjaga identitas budaya, tetapi juga mampu menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia. Generasi muda Hasibuan perlu diberikan ruang untuk berinovasi, berwirausaha, mengembangkan pendidikan, serta memperkuat literasi teknologi dan lingkungan.
Sebagai organisasi yang hidup di tengah masyarakat yang majemuk, PARHARI juga memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi dalam pembangunan sosial. Semangat “marsiadapari” atau saling membantu harus diwujudkan melalui kegiatan nyata seperti bantuan sosial, pendidikan, pelestarian lingkungan, pemberdayaan ekonomi keluarga, dan penguatan karakter generasi muda. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek pendidikan berkualitas, pengurangan kesenjangan, kemitraan, dan pembangunan komunitas yang inklusif.
Hari jadi PARHARI tahun 2026 hendaknya menjadi titik tolak lahirnya energi baru organisasi. Kita ingin PARHARI dikenal bukan hanya karena besar jumlah anggotanya, tetapi juga karena besar manfaat yang diberikannya. Kita ingin generasi muda bangga menjadi bagian dari keluarga besar Hasibuan, bukan semata karena identitas keturunan, melainkan karena nilai-nilai kebersamaan, integritas, dan pengabdian yang diwariskan organisasi ini.
Pada akhirnya, eksistensi organisasi tidak diukur dari usia yang panjang, melainkan dari kemampuan untuk terus memberi makna bagi zamannya. Oleh karena itu, peringatan hari berdiri PARHARI pada 27 September 2026 harus menjadi momentum konsolidasi, transformasi, dan penguatan komitmen bersama untuk menjadikan PARHARI sebagai organisasi yang semakin solid, berdaya guna, dan berkontribusi bagi masyarakat, daerah, bangsa, dan agama.